Minggu, 18 Januari 2015

BUKTI-BUKTI KEBENARAN AL-QUR'AN



Oleh: Adi ST
 

Al-Qur’an sebagai kalam (firman) Allah swt. adalah sebuah kebenaran yang bisa dibuktikan secara aqli (menggunakan akal/dengan berpikir). Hal ini karena Al-Qur’an adalah fakta/obyek yang terindera (al waqi’ al mahsus), bukan perkara yang gaib (mughayyabat) seperti eksistensi jin, malaikat, surga, neraka dan lain-lain. Segala hal yang terindera manusia pasti bisa dipikirkan, sehingga dalil (bukti) kebenaran Al-Qur’an sebagai firman Allah swt. merupakan bukti yang bersifat aqli (dalil aqli).

Dengan demikian, karena Al-Qur’an secara faktual (terindera) adalah kitab berbahasa Arab yang dibawa Rasulullah Muhammad saw. yang dikatakan beliau sebagai firman Allah swt, maka hanya akan ada 3 kemungkinan saja sebagai sumber Al-Qur’an:
1.   Al-Qur’an adalah buatan bangsa Arab, karena Al-Qur’an memang berbahasa Arab
2.   Al-Qur’an adalah buatan Muhammad saw, karena beliaulah yang membawa Al-Qur’an
3.   Al-Qur’an berasal dari Allah swt, karena demikianlah yang dinyatakan oleh Al-Qur’an

Sekarang mari kita analisis 3 kemungkinan di atas satu per satu. 


Kemungkinan pertama tidak bisa diterima, karena Al-Qur’an telah menantang manusia (bangsa Arab) untuk membuat sepuluh surat seperti yang ada di dalam Al-Qur’an (lihat QS. Hud: 13) namun tantangan tersebut tidak berhasil dipenuhi bangsa Arab. Bahkan ketika level tantangan tersebut diturunkan, untuk membuat satu surat saja (lihat QS. Al Baqarah: 23) tetap mereka tidak mampu. Padahal ahli sastra dan bahasa Arab saat itu telah mengadakan berbagai pertemuan menjawab tantangan tersebut, namun tetap gagal.

Adapun kemungkinan kedua juga tidak bisa diterima, karena dua alasan:
1.   Muhammad saw. tergolong bangsa Arab. Beliau juga tidak bisa baca tulis (ummi). Oleh karena itu, jika bangsa Arab yang punya banyak ahli sastra saja tidak mampu membuat yang semisal Al-Qur’an apalagi Muhammad saw. Terlebih lagi beliau seorang yang ummi, jelas sebuah hal yang mustahil.
2.   Gaya bertutur Muhammad saw. seperti yang terbaca dalam hadits-hadits beliau sangat berbeda dengan gaya bahasa Al-Qur’an. Dengan demikian, mustahil Muhammad saw. yang membuat Al-Qur’an karena adanya perbedaan yang kasat mata itu. 

Oleh karena kemungkinan pertama dan kedua tidak bisa diterima akal, maka secara pasti hanya kemungkinan ketigalah yang benar. Al-Qur’an sebagai firman Allah swt. (berasal dari Allah swt.) pun telah dinyatakan dengan tegas oleh Al-Qur’an, seperti didapati dalam QS. Yunus: 37 dan QS. Al-Furqan: 6.

Seorang tokoh sastra Arab (Quraysi) yang hidup pada masa nabi Muhammad saw., yakni Walid bin Mughirah akhirnya mengakui keunggulan Al-Qur’an yang tidak bisa disamai oleh perkataan (kalam) manusia mana pun,

Demi Allah, aku adalah yang paling tahu tentang syair Arab di antara kalian, baik itu rajaznya (prosa), qashidahnya, maupun syair-syair jinnya. Demi Allah, Al-Qur’an itu tidak mirip dengan itu semua. Dan demi Allah, ucapannya itu manis dan indah, yang atasnya berbuah dan yang bawahnya subur. Sungguh dia itu tinggi, tak ada yang lebih tinggi daripadanya…” (HR Baihaqi, dalam kitab Dalail An Nubuwwah)


Referensi:
Muhammad Rahmat Kurnia, dkk. Prinsip-prinsip Pemahaman Al Qur’an dan Al Hadits. Penerbit Khairul Bayan, Jakarta, 2002.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar